Happy Mother Day

Posted: 23 Desember 2010 in Lain - lain

etika Suatu siang, seorang anak berusia remaja bertengkar dengan ibunya. Karena benci dan marah mendengar  ocehan ibunya, akhirnya si anak minggat melarikan diri dari rumah tanpa membawa apapun.

Terpaksa sang anak tidur di emperan toko dan menahan lapar malam itu. Teringat olehnya akan kasur empuk dikamarnya dan hidangan makan malam yang hangat yang dimasak ibunya tersaji di atas meja.

Keesokan harinya saat menyusuri sebuah jalan, ia baru menyadari betapa lusuh dan kotornya baju yang melekat dibadannya dan betapa laparnya dia. Teringat dia akan ibunya, ibu yang selalu mencuci bajunya, ibu yang selalu masak makanan kesukaannya tanpa pamrih.

Sebuah kedai nasi terlihat olehnya diujung jalan dan ia mencium aroma masakan. Ia berdiri terpaku, hati ragu – ragu, ingin sekali masuk ke kedai itu dan memesan makanan, tapi apadaya ia sama sekali tidak membawa uang. Hatinya sangat sedih dan tak terasa airmata mengucur dari kedua matanya.

Pemilik kedai melihat dia berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nak, kenapa kamu berdiri seperti ini dan menangis? Apakah engkau lapar?”

” Ya, dari semalam saya belum makan karena saya tidak punya uang” jawabnya sedih.

Dengan terharu, si pemilik kedai pun berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, ayo masuk ke kedai bapak, nanti bapak beri kamu sepiring nasi” jawab si pemilik kedai.

Dengan malu-malu, si anak tersebut lalu makan nasi yang disajikan oleh pemilik kedai itu dengan airmata yang berlinang.

”Ada apa Nak? Kenapa menangis lagi, apakah nasi bapak kurang enak?” Tanya pemilik kedai.

”Tidak apa – apa, saya hanya terharu” jawabnya sambil mengeringkan airmatanya.

”Seorang yang baru saya kenal saja seperti bapak ini sunggguh terlalu baik buat saya !, tetapi….., ibu saya sendiri, setelah bertengkar, sangat tega mengusir saya dari rumah” tambahnya.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan si anak, menarik nafas panjang dan berkata

“Nak, mengapa kau berpikir seperti itu? Coba kamu renungkan baik – baik, saya hanya memberimu sepiring nasi dan itu sudah membuatmu begitu terharu, Ibumu telah memasak masakan untukmu sejak kamu lahir sampai saat ini bahkan menyuapimu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, mengapa kamu tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya, ingatlah…..! ibumu juga manusia yang mempunyai nafsu dan amarah, jadi janganlah kamu dengarkan amarah ibumu itu, itu hanyalah kata-kata pelampiasan amarahnya saja karena mungkin saja beliau kecewa terhadapmu.

Sang anak terhenyak mendengar hal tersebut. Merenungkan kata-kata  pemilik kedai.

“Mengapa aku tdk berpikir tentang hal itu? Untuk sepiring nasi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya? Ya, aku tahu sekarang, Ibu marah kepadaku karena banyak hal yang kulakukan telah mengecewakan hati ibuku yang begitu baik dan aku jarang mendengarkan nasehatnya” pikirnya dalam hari.

Sang anak segera menghabiskan nasinya, mengucapkan terima kasih dan menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumah.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah khawatir dan terlihat kurang tidur.

”Nak, syukurlah kamu sudah pulang, kemana aja kamu pergi semalam dan tidak pulang? Ibu gelisah memikirkanmu dan memaksa ayahmu mencarimu seharian, cepat masuklah, ibu sudah menyiapkan masakan kesukaanmu dari semalam, tunggu ibu menghangatkannya dulu”

Pada saat itu sang anak tidak dapat menahan lagi tangisnya dan ia sesegukan dihadapan ibunya.

”Ibu….., maafkan anakmu yang telah menyusahkan hati ibu…” kata si anak.

”Sudahlah, cepatlah masuk dan ganti bajumu” kata ibunya terharu.

Oleh : Rizal Effendy
Sumber Gambar :  http://greenyazzahra.wordpress.com

Sketsa wajah seorang ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s