Kehidupan di Atas Daun Sirih

Posted: 15 Desember 2010 in Lain - lain

Wajah tua yang tampak lelah namun selalu tersenyum dalam keceriaan, dengan kulit di sekujur tubuh yang mulai keriput, matanya yang kecoklatan serta gerakan badan yang mulai melemah. Ia yang selalu menggunakan kain sarung dipinggang untuk membaluti tubuhnya itu tampak terlihat  sosok wanita yang mencerminkan kehidupan desa. Dibalik semua ini ia sebenarnya adalah wanita tua yang tak pernah mengeluh dan selalu bersemangat dalam menempuh perjalanan hidupnya sebagai seorang penjual sirih (ranup), tepatnya  di pusat kota Jalan Tgk. Chik Pante Kulu, samping mesjid kebanggaan masyarakat Aceh  Baiturrahaman Banda Aceh, ia dikenal dengan sebutan Nyak Adnan Syah.

Ibu dari delapan orang anak ini yang berasal dari Desa Teupin kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireun merupakan salah satu dari enam belas orang yang melakukan pekerjaan sebagai penjual sirih di tengah kota Banda Aceh. Ia telah melakukan pekerjaan sebagai penjualan sirih sudah mencapai 10 tahun lamanya, ia menjajakan sirihnya di Rak yang berukuran 1 x 1,5 meter, dengan mendapatkan penghasilan antara Rp. 50 ribu hingga Rp. 70 ribu perharinya. Ia mulai berjualan dari pukul 7:00 sampai pukul 24 :00 WIB.

Sebelum berjualan sirih ia merupakan seorang buruh tani yang mengambil upah untuk penanam padi di desa asalnya Kecamatan Simpang Mamplam Bireun. Namun karena penyakit rematik yang menimpanya  ia tidak sanggup untuk pergi kesawah dan beralih ke penjualan sirih karena pekerjaan in merupakan pekerjaan yang sangat ringan menurutnya. Walaupun pekerjaan ini tampak ringan namun tidak seperti yang dibayangkan. Setiap pagi jam 05 WIB pagi ia harus pergi  ke Lambaro Kafe sekitar 10 Km dari Kota Banda Aceh untuk berbelanja perbekalan untuk jualan sirih.

Kegiatan yang dilakukannya dari jam 5 pagi hingga jam 12 malam membuatnya kekurangan tidur bahkan dia juga mengatakan sangat jarang untuk menikmati istirahat malam selama 4 jam. Rata – rata waktu istirahatnya hanya sekitar 3 jam sehari semalam. Nenek yang telah mempunyai 17 orang cucu ini kelahiran 60 tahun silam berjualan di bantu oleh anak perempuanya, Murni 30 tahun, namun ia tidak sering membantu ibunya karena juga ia seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus  suami dan anaknya. ”saya hanya membantu ibu ketika saya tidak ada pekerjaan dirumah”. Ujar perempuan paruh baya itu.

Ia  terpaksa harus melakukan pekerjaan ini, karena menurutnya hanya pekerjaan ini yang mampu ia lakukan dan jualan sirih merupakan pekerjaan yang tidak terlalu berat baginya dan dia juga tidak mempunyai harapan dan tumpuan dari orang lain yang bisa menyokong untuk kehidupan keluarganya. Sedangkan  suaminya telah duluan meninggal pada saat bencana gempa dan tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam 26 Desember 2004 silam.

Selama ia menjalani usaha ini telah banyak yang datang untuk melihat kondisi usahanya namun belum ada yang bisa membantunya untuk mengurangi bebannya. Ironisnya walaupun ada yang datang untuk meninjau dan melihat langsung kondisinya dari berbagai pihak namun sampai saat ini belum ada yang bisa membantunya dalam meringankan beban hidupnya. Ia  belum pernah mendapatkan bantuan dari berbagai program peningkatan ekonomi masyarakat.  sekarang ini ia tinggal di rumah kontrakan di Kampung Mulia, kecamatan Kuta Alam Banda Aceh,  yang juga harus membayar beban sewa rumah Rp 4.000.000 setiap tahunnya.

Menjual “Ranup” Sirih untuk Bertahan Hidup

Ia juga mempunya anak yang masih berumur 13 tahun, yang sekarang duduk di bangku  kelas 1 SMP. Anaknya yang masih tergolong beranjak remaja ini harus dituntun dan dibimbingnya, menurutnya anaknya itu sangat pintar dan rajin, anaknya juga yang selalu membantu ibunya mengantarkan makanan dan kebutuhan lainnya yang dia perlukan ketika berdagang di malam hari.

Harapan cukup besar baginya untuk menjalankan usahanya ini untuk memperbaiki ekonominya sebagai masyarakat kecil. Himpitan ekonomi yang melilit keluarga Ibu Nyak Adnan Syah menjadi salah satu hambatan untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya yang masih menduduki kelas I SMP di banda Aceh. Semangat untuk memberikan pendidikan sampai keperguruan tinggi menjadi fokus utamanya namun dengan usia yang sangat rentan tidak memungkinkan lagi untuk mencapai harapanya. Dia berharap ada yang mau membantu untuk memberikan beasiswa kepada anaknya, serta dukungan ekonomomi untuk memperbaiki kualitas kehidupannya.

Oleh : Ramadhan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s